Pemerintah Republik Indonesia terus mempererat hubungan ekonomi dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) demi mendorong masuknya investasi berkualitas ke dalam negeri. Dalam agenda kunjungan kehormatan delegasi bisnis RRT di Jakarta pada Kamis (23/7), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengajak para pelaku usaha asal Negeri Tirai Bambu tersebut untuk memperluas jangkauan investasi mereka pada berbagai sektor strategis bernilai tambah tinggi.

Airlangga meyakinkan para investor dengan merujuk pada data Japan External Trade Organization (JETRO) yang menunjukkan iklim bisnis positif di Indonesia. Menurut laporan tersebut, sekitar 70 persen perusahaan asing yang menanamkan modal di Indonesia berhasil membukukan laba. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa tanah air menawarkan potensi keuntungan yang besar bagi para pelaku usaha global.

Hubungan dagang kedua negara saat ini ditopang oleh kesepakatan dagang regional seperti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Kemitraan ini tercermin dari tingginya nilai perdagangan bilateral yang berkisar antara USD 154 miliar hingga USD 160 miliar. Komoditas unggulan Indonesia yang diminati pasar Tiongkok meliputi nikel, feroloid, batu bara, hingga minyak sawit.

Untuk menyambut ketertarikan investor, pemerintah Indonesia telah menyiapkan serangkaian insentif fiskal yang kompetitif. Di antaranya adalah pembebasan pajak korporasi (tax holiday) hingga 100 persen berdasarkan nilai investasi, keringanan pajak (tax allowance), hingga pemotongan pajak super (super tax deduction) bagi industri yang fokus pada riset dan pengembangan sumber daya manusia.

Kerja sama strategis ini mencakup berbagai sektor mutakhir, termasuk industri otomotif dengan kehadiran pabrikan asal Tiongkok seperti BYD dan Chery yang kini menguasai pasar lokal. Di sektor pendidikan, kolaborasi telah terjalin dengan Tsinghua University di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bali. Selain itu, pemerintah juga membidik kemitraan di sektor ekonomi digital, pembangunan pusat data (data center), infrastruktur serat optik, hingga industri semikonduktor.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga kelangsungan hubungan bilateral yang komprehensif ini. Pemerintah bertekad memfasilitasi kemitraan yang saling menguntungkan di segala sektor guna mempercepat transformasi ekonomi nasional yang berkelanjutan.