Menyikapi eskalasi aktivitas erupsi pada Gunung Anak Krakatau, pakar dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk memperketat langkah mitigasi praktis guna menekan potensi risiko. Upaya ini dinilai krusial mengingat dinamika vulkanik gunung tersebut yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan warga di sekitar Selat Sunda.

Poin utama yang ditekankan adalah kepatuhan mutlak terhadap zona larangan akses. Otoritas telah menetapkan radius bahaya sejauh 3 kilometer dari kawah aktif. Masyarakat, baik nelayan maupun wisatawan, diminta tidak mendekati area tersebut guna menghindari bahaya lontaran material pijar, awan panas, serta paparan gas beracun yang membahayakan nyawa.

Selain itu, masyarakat pesisir diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan evakuasi mandiri. Belajar dari sejarah geologis Selat Sunda, setiap keluarga diharapkan telah memetakan jalur evakuasi menuju dataran tinggi serta menentukan titik kumpul yang aman, terutama jika terjadi aktivitas vulkanik yang disertai gempa kuat atau anomali air laut.

Terkait antisipasi dampak abu vulkanik, Daryono menyarankan warga untuk melakukan proteksi dini terhadap rumah tinggal. Langkah preventif seperti menutup rapat celah ventilasi serta mengamankan sumber air minum sangat diperlukan untuk mencegah kontaminasi debu mikro yang bersifat asam. Warga juga diimbau untuk selalu menggunakan pelindung pernapasan dan mata jika sebaran abu mulai meluas.

Terakhir, masyarakat diminta untuk tidak mudah termakan informasi simpang siur yang kerap muncul saat situasi darurat. Validasi data melalui kanal resmi pemerintah dan lembaga terkait menjadi syarat mutlak agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat, faktual, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk menentukan langkah keselamatan berikutnya.