Sektor pertanian Vietnam kini memasuki fase transformasi krusial. Dalam konferensi evaluasi pelaksanaan Resolusi 57-NQ/TW, Presiden To Lam menegaskan bahwa inovasi ilmu pengetahuan serta teknologi bukan lagi konsep abstrak yang terbatas di laboratorium. Sebaliknya, teknologi harus diintegrasikan langsung ke dalam denyut nadi kehidupan, mulai dari budidaya padi, pengelolaan komoditas unggulan daerah (OCOP), hingga rantai pasok global.
Penerapan kebijakan ini bertujuan menjawab tantangan persaingan pasar internasional yang semakin ketat. Koperasi Teh Hao Dat di Thai Nguyen menjadi salah satu contoh sukses implementasi ini. Dengan memanfaatkan teknologi digital untuk manajemen produksi dan transparansi data, koperasi tersebut berhasil meningkatkan kualitas produk secara signifikan, sekaligus memenuhi standar ketat pasar ekspor yang menuntut keterlacakan informasi.
Meski banyak komoditas seperti kopi dan beras telah mampu menembus pasar dunia, tantangan besar masih membayangi. Sebagian besar produk pertanian Vietnam masih diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai tambah yang rendah. Wakil Direktur Departemen Sains dan Teknologi, Nguyen Nhu Cuong, menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar penggunaan perangkat lunak, melainkan upaya penataan ulang proses produksi agar lebih presisi, efisien, dan ramah lingkungan.
Selain digitalisasi, pengembangan ekonomi sirkular dan optimalisasi teknologi pascapanen menjadi fondasi utama dalam meningkatkan efisiensi. Strategi ini diharapkan mampu meminimalisir biaya produksi, mengurangi dampak lingkungan, serta meningkatkan daya tawar produk di pasar global. Transformasi ini memerlukan perubahan pola pikir dari para pemangku kepentingan untuk beralih dari model kuantitas menuju model berbasis nilai dan berkelanjutan.