Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan, KH Muslih Khudlori, mengingatkan pentingnya menjaga jati diri bagi segenap kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia menekankan bahwa arah perjuangan PMII harus tetap kokoh bersandar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), meskipun di tengah pesatnya arus modernisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Rapat Tahunan Komisariat (RTK) V PMII Komisariat Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan yang berlangsung di Aula Gedung A ITSNU Pekalongan, Senin (20/7/2026). Forum tahunan yang mengusung tema "Fundamenta Altis" ini menjadi wadah strategis untuk mengevaluasi kinerja sekaligus merancang arah kebijakan organisasi ke depan.
Menurut Kiai Muslih, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian cepat menuntut kader PMII untuk adaptif. Kendati demikian, kapasitas akademik yang mumpuni di bidang sains dan teknologi tidak boleh membuat mereka melupakan fondasi keislaman serta kebangsaan yang menjadi pilar gerakan.
"ITSNU Pekalongan memiliki iklim akademik yang sangat kuat pada sektor sains dan teknologi. PMII harus hadir di tengah atmosfer ini untuk mencetak intelektual muda yang tangguh secara akademis tanpa melupakan nilai Aswaja sebagai kompas dalam berpikir dan bertindak," tutur KH Muslih Khudlori.
Selain itu, ia juga mengingatkan para mahasiswa untuk cermat membagi waktu antara bangku perkuliahan dan aktivitas organisasi. Menurutnya, keselarasan antara kedua dunia tersebut akan membentuk kepemimpinan mahasiswa yang matang dari aspek spiritual, intelektual, maupun sosial.
Senada dengan hal itu, Ketua Cabang PMII Pekalongan, Ahmad Nur Khozin, menegaskan kesiapan kadernya dalam menjawab tantangan zaman melalui penguasaan teknologi yang diiringi dengan penguatan ideologi. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan rektorat ITSNU Pekalongan Husni Hidayat serta Majelis Pembina Komisariat Mafturrahman, yang bersama-sama mengapresiasi jalannya forum demokrasi mahasiswa tersebut.