Menyusul implementasi aturan baru mengenai perundungan di tempat kerja di Taiwan mulai Juli ini, tenaga ahli psikiatri memberikan perhatian serius terhadap kesehatan mental para pekerja. Fenomena tekanan kerja tinggi yang berlangsung terus-menerus sering kali membuat karyawan terjebak dalam pola pikir menyalahkan diri sendiri, terutama ketika terjadi ketimpangan relasi kuasa di kantor.

Dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Umum Kuang Tien, Yang Meng-fan, menyoroti bahwa banyak individu kehilangan keberanian untuk membela hak mereka akibat tekanan yang diinternalisasi. Padahal, amandemen Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja kini telah memberi ruang bagi pekerja untuk melaporkan kasus perundungan hingga level pimpinan tertinggi secara langsung kepada otoritas terkait.

Dr. Yang menegaskan bahwa tanda-tanda kelelahan mental, seperti insomnia kronis, kecemasan berlebih, hingga kesulitan untuk merasa rileks saat hari libur, merupakan indikator bahwa seseorang telah melampaui ambang batas kemampuan fisiknya. Jika gejala ini diabaikan, risiko munculnya gangguan depresi dan kecemasan menjadi nyata dan memerlukan intervensi medis.

Sebagai langkah preventif, para pekerja didorong untuk mempraktikkan konsep "istirahat total". Bukan sekadar melarikan diri dari tanggung jawab, strategi ini bertujuan untuk menciptakan batasan yang tegas antara kehidupan profesional dan personal, serta memberikan jeda yang dibutuhkan oleh pikiran dan tubuh.

Pekerja diingatkan agar tidak mendefinisikan jati diri mereka sepenuhnya melalui pekerjaan. Dr. Yang menekankan bahwa pekerjaan hanyalah satu bagian dari panggung kehidupan, sehingga menjaga keseimbangan mental adalah kunci utama agar tetap mampu berkontribusi secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas hidup pribadi.