Di tengah masifnya arus informasi di media sosial dan tingginya tekanan akademik, menjaga keseimbangan kesehatan mental kini menjadi sama krusialnya dengan menjaga kondisi fisik. Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Andriyani Astuti, menegaskan bahwa gangguan psikologis sekecil apa pun memerlukan penanganan dini agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih kompleks di masa depan.

Sebagai langkah konkret, pihak Fakultas Peternakan UGM telah menginisiasi program edukasi Psychological First Aid (PFA) bagi seluruh sivitas akademika. Program ini dirancang untuk memberikan dukungan awal bagi individu yang sedang mengalami stres emosional, sehingga mereka merasa lebih tenang dan terbantu saat menghadapi tekanan hidup atau tuntutan lingkungan.

Psikolog Ratih Ratnasari menjelaskan bahwa PFA bukanlah sebuah terapi klinis atau diagnosis psikologis, melainkan keterampilan dasar yang bisa dipelajari siapa saja. Fokus utamanya adalah memberikan ruang aman bagi individu yang mengalami tekanan, baik akibat masalah akademik, beban pekerjaan, hingga kecemasan berlebihan yang sering kali dipicu oleh interaksi di dunia digital.

Dalam praktiknya, PFA menekankan pada teknik mendengar aktif (active listening) tanpa gangguan distraksi perangkat teknologi serta memberikan validasi emosi terhadap mereka yang sedang kesulitan. Ratih mengingatkan agar masyarakat menghindari sikap menghakimi atau terburu-buru memberikan saran, karena respons yang kurang tepat justru berisiko memperburuk kondisi psikologis seseorang yang sedang membutuhkan dukungan.