Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya tengah mematangkan langkah strategis untuk memperkuat fungsi Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar sebagai pusat riset keanekaragaman hayati. Memasuki tahun ketiga operasionalnya, kawasan tersebut ditargetkan mampu menampung sedikitnya 100 spesies tanaman mangrove pada tahun depan.

Saat ini, KRM Gunung Anyar tercatat telah mengoleksi 74 jenis mangrove. Guna menutup selisih dari target yang dicanangkan, BRIDA Surabaya berencana menggelar ekspedisi ilmiah ke berbagai wilayah di Indonesia untuk mencari dan memboyong varietas mangrove baru yang belum dikoleksi di kawasan tersebut.

Kepala BRIDA Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menjelaskan bahwa upaya ini menitikberatkan pada aspek biodiversitas, bukan sekadar penambahan populasi pohon secara kuantitas. Menurutnya, keragaman jenis tanaman sangat vital demi menyediakan bahan penelitian yang komprehensif bagi para akademisi dan periset.

Lebih lanjut, Agus menerangkan adanya pembagian peran yang jelas dalam pengelolaan kawasan pesisir di Kota Pahlawan. Sementara BRIDA berfokus pada pengembangan KRM Gunung Anyar sebagai sentra edukasi dan riset dengan variasi spesies yang kaya, fungsi konservasi dan perlindungan bentang alam di wilayah pesisir lainnya, seperti Romokalisari, tetap diampu oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).

Perbedaan fokus ini berimplikasi pada pendekatan pengelolaan di lapangan. Kawasan konservasi pesisir dinilai berhasil jika mampu menciptakan kerapatan hutan mangrove yang hijau untuk mencegah abrasi, meski jenis tanamannya terbatas. Sebaliknya, KRM Gunung Anyar dituntut memiliki variasi jenis yang melimpah guna mendukung perannya sebagai laboratorium alam yang representatif.