Indonesia saat ini tengah menjalin komunikasi intensif dengan India guna mengeksplorasi potensi kemitraan strategis di sektor industri hilirisasi logam tanah jarang atau rare earth. Langkah ini diproyeksikan untuk mengakselerasi penguasaan teknologi pemisahan dan pemurnian mineral kritis tersebut, yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan industri magnet di tanah air.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini difokuskan pada skema alih teknologi. India dianggap memiliki keunggulan kapabilitas teknis dalam proses pemurnian rare earth yang dapat diadopsi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral nasional.

Proses penjajakan ini melibatkan sinergi lintas instansi, di mana tim dari PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan serangkaian pertemuan teknis. Upaya ini mencakup kunjungan langsung ke India guna meninjau kesiapan infrastruktur dan riset yang relevan dengan kebutuhan industri di Indonesia.

Hingga saat ini, pembahasan tersebut masih berada dalam tahap awal namun terus menunjukkan perkembangan positif. Fokus utamanya tetap pada upaya membangun ekosistem hilirisasi yang mandiri, dengan mengandalkan transfer pengetahuan dari mitra internasional guna memperkuat daya saing industri berbasis teknologi tinggi di masa depan.