Penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan Gunung Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menyuarakan gelombang penolakan dari masyarakat adat. Melalui aksi damai pemasangan spanduk serentak di empat kecamatan pada Kamis (16/7/2026), Gerakan Masyarakat Peduli Gunung Rajabasa (GMPGR) yang tergabung dalam Forum Segekhi Suku menegaskan komitmen mereka untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan ruang adat.

Pemasangan spanduk aspirasi ini berlangsung kondusif mulai pukul 09.00 hingga 13.30 WIB di wilayah Kalianda, Rajabasa, Penengahan, dan Bakauheni. Aksi ini merupakan kelanjutan dari penyampaian aspirasi resmi yang sebelumnya telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten serta DPRD Lampung Selatan pada akhir Juni lalu.

Perwakilan forum menjelaskan bahwa spanduk yang dipasang bukan sekadar alat peraga, melainkan simbol nilai perjuangan mereka. Penggunaan warna putih pada kain melambangkan kesucian niat dalam meneruskan warisan leluhur untuk menjaga alam, sementara tulisan berwarna merah menegaskan keberanian dan keteguhan sikap warga dalam menentang eksploitasi yang berpotensi merusak ekosistem setempat.

Ketua Forum Segekhi Suku, Beta Rahmi, yang bergelar Adok Pengikhan Pukuk Sabuay Nimbau, menyatakan tidak ada ruang negosiasi atau kompromi bagi proyek pengeboran tersebut. Baginya, menjaga kawasan Gunung Rajabasa adalah harga mati demi masa depan generasi mendatang, mengingat nilai penting gunung tersebut dari sudut pandang ekologi, budaya, hingga spiritual.

Forum ini juga mengimbau seluruh elemen masyarakat Lampung Selatan untuk tetap bersatu dan menolak iming-iming keuntungan jangka pendek yang dapat mengorbankan keseimbangan alam. Perjuangan akan terus ditempuh melalui koridor hukum yang berlaku secara damai demi memastikan Gunung Rajabasa tetap berfungsi sebagai penyangga kehidupan utama daerah tersebut.