Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk tetap mengacu pada saluran komunikasi resmi pemerintah dalam menyikapi dinamika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK). Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran informasi keliru yang berpotensi menimbulkan keresahan publik di wilayah Lampung Selatan dan sekitarnya.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Andi Suwardi, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan intensif, baik secara visual maupun menggunakan perangkat instrumental. Menurutnya, fluktuasi aktivitas gunung tersebut merupakan siklus alami pelepasan energi, di mana aktivitas akan menurun setelah energi terakumulasi habis, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada tanpa harus panik berlebihan.
Terkait potensi risiko, PVMBG membandingkan kondisi geologis saat ini dengan peristiwa tsunami pada tahun 2018. Saat ini, ketinggian Gunung Anak Krakatau berada di kisaran 157 meter di atas permukaan laut (mdpl), jauh lebih rendah dibandingkan saat mencapai 338 mdpl di tahun 2018. Penurunan beban puncak ini diharapkan dapat meminimalisir dampak destruktif apabila terjadi longsoran vulkanik di masa depan.
Mengenai dampak langsung bagi warga di sekitar pesisir, PVMBG mengidentifikasi hujan abu sebagai risiko yang paling mungkin terjadi jika arah angin mengarah ke daratan. Masyarakat disarankan untuk segera mengenakan masker pelindung guna mengantisipasi paparan abu vulkanik. Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih terpantau aman dan belum ada ancaman membahayakan bagi pemukiman warga.