Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi memperingati 106 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) dalam sebuah sidang terbuka yang digelar di Aula Barat, Kampus Ganesha, Jumat (3/7/2026). Dalam forum tersebut, tokoh pembangunan energi terbarukan, Tri Mumpuni, didapuk menyampaikan orasi ilmiah mengenai tantangan integrasi sains, teknologi, dan nilai kemanusiaan di masa depan.

Dalam paparannya, Tri Mumpuni menyoroti bahwa persoalan krusial dunia saat ini, seperti krisis iklim dan ketimpangan sosial, tidak akan tuntas hanya dengan solusi teknis murni. Ia mendesak adanya perubahan mendasar dalam pola pikir para pengembang teknologi agar tidak lagi terjebak pada ideologi pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi dan akumulasi modal secara agresif.

Lebih lanjut, ia memperkenalkan konsep 'tekno-antropologi' sebagai pendekatan yang menempatkan teknologi dalam koridor budaya dan kehidupan masyarakat. Menurutnya, kaum intelektual tidak boleh mengurung diri dalam ruang akademik, melainkan harus turun langsung untuk memahami realitas sosial. Baginya, teknologi yang berdampak luas adalah teknologi yang berpijak pada empati dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa secara langsung, bukan justru meminggirkan warga lokal sebagai penyedia bahan mentah.

Mengakhiri orasinya, sosok pendiri IBEKA tersebut menekankan bahwa keseimbangan antara kecerdasan intelektual, sosial, dan spiritual merupakan fondasi utama keberlanjutan. Ia berharap perguruan tinggi teknik di Indonesia mampu mencetak lulusan yang tidak hanya piawai dalam aspek teknis, tetapi juga memiliki kepekaan tinggi terhadap pelestarian lingkungan dan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.