Langkah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang mulai melakukan safari politik pasca-purna tugas dari jabatannya, kini menjadi sorotan tajam para pakar. Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Agus Riewanto, menyoroti bahwa rangkaian agenda tersebut merupakan upaya strategis Jokowi untuk menjaga jaringan politik serta basis loyalitas relawannya tetap solid.
Agus menilai bahwa aksi ini membuka pintu bagi skenario yang disebutnya sebagai "Jokowisme 2.0". Hal ini mencakup potensi mengorbitkan sosok pengganti dari lingkaran keluarga, seperti Gibran Rakabuming Raka atau Kaesang Pangarep, sekaligus memosisikan diri sebagai patron bagi poros politik baru yang independen dari pengaruh dominan partai besar seperti Gerindra maupun PDIP.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengaruh Jokowi saat ini lebih terasa di tingkat elite nasional ketimbang efek elektoral di akar rumput. Statusnya sebagai "faktor X" memaksa kekuatan politik besar tetap memperhitungkan posisinya. Hal ini membuat rivalitas politik tidak lagi hitam-putih, melainkan sebuah pola yang disebut Agus sebagai koeksistensi dengan kompetisi.
Dalam analisisnya, hubungan antara Joko Widodo, Presiden Prabowo Subianto, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak dapat dikategorikan sebagai oposisi maupun subordinasi. Sebaliknya, relasi tersebut merupakan bentuk simbiosis mutualisme yang dirancang untuk mengamankan kepentingan politik kolektif dalam menghadapi kontestasi nasional di tahun 2029 mendatang.