Dinamika pasar properti sepanjang semester pertama tahun 2026 menunjukkan anomali yang signifikan. Di satu sisi, sektor ini menjadi primadona bagi modal asing, namun di sisi lain, ribuan perusahaan lokal justru terpaksa gulung tikar akibat tekanan ekonomi yang kian berat.
Data dari Kantor Statistik Umum menunjukkan sebanyak 1.463 unit bisnis properti resmi membubarkan diri dalam enam bulan pertama 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan drastis sebesar 120,3% dibandingkan periode serupa tahun lalu. Fenomena ini diperparah dengan 2.971 perusahaan lainnya yang memilih untuk menangguhkan kegiatan operasional mereka sementara waktu.
Kondisi ini menegaskan terjadinya proses seleksi alam yang ketat di pasar. Perusahaan dengan struktur keuangan yang rapuh serta keterbatasan pasokan terpaksa angkat kaki karena gagal bersaing di tengah pasar yang stagnan. Meski demikian, antusiasme investor asing tetap tinggi, dengan total modal investasi mencapai US$5,1 miliar, menempatkan sektor properti sebagai tujuan modal terbesar kedua setelah industri manufaktur.
Perbedaan mencolok ini terjadi karena fokus investor asing yang bersifat jangka panjang dan strategis, sementara daya beli domestik justru sedang berada di titik nadir. Survei pasar menunjukkan bahwa minat beli masyarakat menurun drastis, dengan mayoritas calon pembeli lebih memilih untuk bersikap *wait and see* atau menunda transaksi setidaknya hingga satu tahun ke depan.
Hingga saat ini, kehati-hatian konsumen domestik dipicu oleh ketidakpastian harga dan suku bunga. Data menunjukkan koreksi harga tipis terjadi di beberapa wilayah seperti Hanoi dan kota-kota satelit, yang mengindikasikan bahwa pasar sedang mengalami fase penyesuaian. Kesenjangan antara optimisme modal global dan keraguan pasar domestik diprediksi akan terus berlanjut hingga kondisi makro ekonomi menunjukkan stabilitas yang lebih pasti.