Pemerintah Kirgizstan resmi membuka Tamchy Special Financial Investment Territory (SFIT), sebuah kawasan investasi dan keuangan terpadu yang dirancang khusus untuk menarik minat korporasi internasional. Inisiatif strategis ini diproyeksikan menjadi episentrum ekonomi baru di Eurasia, sekaligus memberikan pintu masuk bagi perusahaan global, termasuk pelaku bisnis dari Indonesia, untuk menjangkau pasar potensial di Asia Tengah.
Salah satu daya tarik utama yang ditawarkan Tamchy SFIT adalah insentif fiskal yang agresif, yakni skema pembebasan tarif nol persen untuk seluruh jenis pajak utama yang berlaku selama 49 tahun. Langkah ini diambil pemerintah setempat untuk meningkatkan daya saing kawasan di tengah ketatnya persaingan investasi asing langsung di tingkat global.
Tidak sekadar memberikan keringanan pajak, Tamchy SFIT juga menerapkan kerangka hukum berbasis English Common Law yang menjamin kepastian bagi investor. Keberadaan pengadilan independen, pusat resolusi sengketa internasional, serta regulator keuangan yang modern menjadi instrumen utama untuk memberikan perlindungan hukum yang stabil dan konsisten bagi para pelaku usaha.
Presiden Kirgizstan, Sadyr Japarov, menegaskan bahwa pengembangan kawasan ini merupakan upaya konkret negaranya untuk mengadopsi standar internasional demi menarik modal jangka panjang. Ia menekankan bahwa Tamchy SFIT tidak hanya mengandalkan inovasi regulasi, tetapi juga memadukan efisiensi operasional digital dengan infrastruktur modern, mengingat lokasinya yang sangat strategis karena hanya berjarak lima menit dari Bandara Internasional Issyk-Kul.
Saat ini, sejumlah perusahaan multinasional seperti Serim (Korea Selatan), Thunes (Uni Emirat Arab), Victory Securities (Hong Kong), dan Onchain Technologies (Swiss) telah resmi menanamkan modalnya di kawasan ini. Pemerintah Kirgizstan sendiri menargetkan kehadiran 4.000 perusahaan di Tamchy SFIT pada tahun 2035, guna memperkuat posisi negara tersebut dalam peta keuangan internasional.