Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, memberikan tanggapan terkait polemik yang belakangan muncul di media sosial mengenai aktivitas ziarah di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut merupakan bagian integral dari mozaik tradisi dan budaya lama yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam keterangannya di Jakarta pada Senin (6/7/2026), Fadli Zon memandang keberagaman cara pandang masyarakat terhadap situs-situs keramat sebagai realitas sosiologis yang perlu disikapi secara bijak. Ia menyatakan bahwa selama aktivitas tersebut tidak merusak serta memberikan dampak positif bagi ekonomi kreatif warga sekitar, maka tradisi tersebut dapat dipandang sebagai aset budaya.

Sebelumnya, perbincangan mengenai Pesarean Gunung Kawi sempat ramai karena dikaitkan dengan narasi praktik pesugihan oleh warganet. Stigma negatif ini berbanding terbalik dengan fungsi kawasan tersebut sebagai situs bersejarah dan religius yang menyimpan makam tokoh kharismatik, yakni Kiai Zakaria II atau Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono.

Kawasan Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang selama ini dikenal sebagai pusat ziarah yang konsisten menarik ribuan pengunjung. Puncak keramaian biasanya terjadi setiap perayaan Tahun Baru Hijriah atau 1 Suro, di mana pihak pengelola dan masyarakat setempat rutin menggelar prosesi kirab budaya dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan atas sejarah panjang di wilayah tersebut.