Menteri Kebudayaan Fadli Zon akhirnya buka suara terkait ramainya perbincangan di media sosial yang mengaitkan tradisi ziarah di Gunung Kawi, Jawa Timur, dengan praktik pesugihan. Fenomena tersebut menuai beragam interpretasi dari warganet, sehingga memicu perdebatan mengenai nilai spiritual dan budaya di kawasan tersebut.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (6/7), Fadli Zon menegaskan bahwa kegiatan ziarah di Gunung Kawi harus dipandang sebagai mozaik tradisi dan budaya yang telah mengakar lama di Indonesia. Menurutnya, keberagaman cara masyarakat dalam memahami dan menghormati tempat-tempat bersejarah merupakan cerminan dari realitas kehidupan di tanah air.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa selama aktivitas tersebut memberikan manfaat positif, terutama dalam menggerakkan roda ekonomi budaya bagi masyarakat lokal, maka fenomena tersebut patut dihargai sebagai bagian dari kearifan lokal. Ia juga menegaskan bahwa selama tradisi itu tidak merusak atau mengganggu ketertiban umum, pemerintah melihatnya sebagai realitas sosial yang wajar.
Sebagai informasi, Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang merupakan situs makam tokoh sejarah, yakni Raden Mas Soeryo Koesoemo (Kiai Zakaria II atau Eyang Djoego) dan Raden Mas Iman Soedjono. Kompleks makam ini menjadi destinasi yang kerap dikunjungi peziarah, terutama saat perayaan Tahun Baru Hijriah.
Setiap tanggal 1 Muharam atau 1 Syuro, kawasan Pesarean Gunung Kawi rutin dipadati pengunjung yang mengikuti serangkaian prosesi adat. Kegiatan ini meliputi kirab warga dan tabur bunga, yang telah menjadi tradisi tahunan guna mengenang jasa para tokoh yang dimakamkan di sana.