Pemerintah Indonesia tengah memprioritaskan strategi pencegahan dini penyakit stroke melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Langkah ini diambil sebagai upaya krusial dalam menekan beban pembiayaan JKN yang terus melonjak hingga menembus angka Rp5 triliun setiap tahunnya.
Data nasional menunjukkan stroke merupakan penyebab kematian tertinggi di Tanah Air dengan estimasi 337.000 jiwa per tahun. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa prevalensi hipertensi yang mencapai 20 persen dan diabetes di atas 10 persen menjadi faktor risiko utama yang harus dikendalikan sebelum berkembang menjadi stroke.
Untuk mencapai target jangkauan 280 juta penduduk dalam lima tahun ke depan, pemerintah mengadopsi pendekatan 80-80-80. Strategi ini berfokus pada identifikasi penduduk, pemberian penanganan yang tepat, serta pendampingan berkelanjutan hingga kondisi kesehatan pasien terkendali.
Selain pencegahan di sisi hulu, pemerintah juga mempercepat pemerataan fasilitas medis di 514 kabupaten/kota. Penambahan alat medis canggih seperti CT scan, cath lab, hingga pelatihan kraniotomi bagi dokter bedah umum di daerah menjadi fokus utama agar penanganan stroke tidak lagi terpusat di kota besar.
Sinergi di bidang medis juga diperkuat melalui penyelenggaraan ICONNS 2026. Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional, dr. Adin Mulkasana, menekankan bahwa standardisasi klinis yang seragam menjadi kunci vital dalam menekan angka kematian serta risiko kecacatan permanen akibat stroke di seluruh penjuru Indonesia.