Indonesian Islamic Art Museum (IIAM) yang berlokasi di kawasan Wisata Bahari Lamongan kini meneguhkan posisinya sebagai pusat peradaban dan warisan digital (digital heritage). Sejak berdiri pada 2016, museum ini terus berinovasi untuk mengubah citra tempat penyimpanan artefak menjadi institusi yang mampu memproduksi pengetahuan melalui pendekatan riset serta teknologi terkini.

Pengelolaan museum di bawah naungan Yayasan D'Topeng Kingdom Group ini mengedepankan paradigma museum sebagai ruang belajar aktif. Koleksi yang dipamerkan mencakup jejak sejarah kerajaan Islam di Indonesia, mulai dari Samudra Pasai hingga Kesultanan Gowa-Tallo, serta peran strategis Wali Songo. Setiap objek diposisikan sebagai sumber pembelajaran yang relevan dan hidup bagi masyarakat modern.

Untuk menjawab tantangan zaman, IIAM menerapkan sistem pembelajaran berbasis deep learning dan experiential learning. Pengunjung diajak berinteraksi dengan sejarah melalui teknologi Augmented Reality (AR), video interaktif berbasis QR, serta sajian multimedia imersif. Menariknya, seluruh materi edukasi tersebut telah diterjemahkan ke dalam 12 bahasa asing untuk menjangkau audiens global.

Business Intelligence Consultant D'Topeng Kingdom Foundation, David George H., menegaskan bahwa integrasi teknologi ini bukanlah upaya menggantikan keaslian koleksi. Sebaliknya, inovasi tersebut dirancang untuk memperkaya interpretasi pengunjung agar nilai-nilai sejarah dapat dipahami secara lebih kontekstual, kritis, dan inklusif bagi generasi digital saat ini.

Berlokasi strategis dekat dengan kompleks Makam Sunan Drajat, IIAM kini membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai pihak, mulai dari institusi pendidikan, pesantren, hingga jaringan museum internasional. Langkah ini diambil sebagai komitmen museum dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia serta pelestarian warisan budaya bangsa yang berkelanjutan.