Terjadi pergeseran besar dalam minat calon mahasiswa baru pada seleksi masuk perguruan tinggi tahun ini. Jurusan di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) mencatat lonjakan pendaftaran yang signifikan, menggeser dominasi ilmu sosial dan ekonomi yang selama ini menjadi favorit masyarakat. Berdasarkan data terbaru, lebih dari setengah total pendaftar kini mengincar program studi berbasis sains dan teknologi tersebut.

Dari sekitar 874.800 calon mahasiswa yang mendaftar, hampir 467.600 orang atau setara dengan 53,45 persen di antaranya memilih rumpun STEM. Secara akumulasi, jumlah aplikasi untuk rumpun ini mencapai 2,37 juta berkas, menyumbang sekitar sepertiga dari total aplikasi seleksi nasional. Jurusan Ilmu Komputer, Teknologi Informasi, serta Ilmu Pengetahuan Alam menjadi program studi yang paling diminati oleh para pendaftar tahun ini.

Pihak universitas menyambut hangat fenomena ini sebagai sinyal positif bagi masa depan industri teknologi nasional. Vu Duy Hai, Kepala Penerimaan mahasiswa di salah satu universitas teknologi terkemuka, mengungkapkan bahwa angka ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, porsi pendaftar di bidang STEM hanya berkisar antara 30 hingga 40 persen saja, sementara bidang ekonomi selalu mendominasi porsi pilihan utama.

Pengamat pendidikan menganalisis ada tiga faktor utama di balik perubahan tren ini. Pertama, adanya komitmen kuat pemerintah melalui kebijakan strategis untuk mendorong penguasaan teknologi nasional. Kedua, pesatnya perkembangan inovasi global seperti kecerdasan buatan (AI) yang semakin dekat dengan keseharian siswa, sehingga memotivasi mereka untuk menjadi bagian dari perkembangan tersebut.

Faktor ketiga yang menjadi pendorong terkuat adalah hadirnya program beasiswa nasional. Kebijakan ini memberikan dukungan finansial yang signifikan bagi mahasiswa yang memilih jurusan teknologi inti dan sains dasar. Skema beasiswa ini tidak hanya meringankan biaya kuliah, tetapi juga berfungsi sebagai garansi bahwa lulusan di bidang ini sangat dibutuhkan oleh pasar kerja di masa mendatang.

Meski minat awal ini sangat menggembirakan, otoritas pendidikan setempat menekankan pentingnya menjaga kualitas proses belajar-mengajar hingga kelulusan. Tantangan berikutnya adalah memastikan para mahasiswa ini dapat menyelesaikan studi dengan baik dan terserap secara optimal di dunia industri. Saat ini, proporsi mahasiswa STEM tercatat baru mencapai 29 persen, dengan target ambisius untuk menyentuh angka 35 persen pada tahun 2030 mendatang.