Sebuah unggahan video yang menampilkan rekaman letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau kembali meresahkan masyarakat di media sosial. Video yang disebarkan melalui berbagai platform seperti Facebook dan Threads tersebut mengeklaim bahwa peristiwa erupsi terjadi pada 3 Juli 2026, disertai imbauan agar nakhoda kapal meningkatkan kewaspadaan saat melintasi Selat Sunda.

Setelah dilakukan penelusuran mendalam melalui teknik verifikasi digital, Tim Cek Fakta memastikan bahwa narasi dan visual dalam video tersebut adalah kabar bohong atau hoaks. Konten tersebut sama sekali tidak mencerminkan situasi terkini Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memberikan klarifikasi resmi terkait penyebaran video tersebut. Pihak otoritas menegaskan bahwa rekaman yang beredar tidak memiliki kaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pada tanggal yang disebutkan.

Senada dengan pernyataan tersebut, petugas pemantau di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Lampung Selatan, Andi Suwardi, menjelaskan bahwa visual dalam video tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Berdasarkan data pemantauan resmi, aktivitas erupsi gunung tersebut jauh berbeda dengan apa yang dinarasikan dalam unggahan menyesatkan tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan selalu merujuk pada informasi resmi dari instansi terkait mengenai kondisi geologi gunung api. Verifikasi terhadap konten viral sangat diperlukan guna mencegah kepanikan dan penyebaran disinformasi lebih lanjut di tengah masyarakat.