Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, memperkenalkan teknologi inovatif bernama "Lahsamor" sebagai solusi alternatif untuk mengatasi penumpukan sampah organik di Bali. Inovasi yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini dipamerkan di sela-sela Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Renon, Denpasar, Selasa (7/7/2026).

Lahsamor dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam mengelola sampah organik rumah tangga secara mandiri. Alat ini bekerja dengan sistem tuas yang mampu mengolah sekitar 0,5 hingga 1 kilogram sampah organik setiap harinya. Zulkifli menyatakan harapannya agar kapasitas alat tersebut dapat ditingkatkan hingga 50 kilogram agar lebih optimal digunakan di instansi pendidikan, perkantoran, maupun pusat perbelanjaan.

Meski teknologi ini menawarkan kemudahan, Zulkifli menegaskan bahwa kunci utama dari manajemen sampah tetap terletak pada kedisiplinan pemilahan sampah organik dan anorganik dari sumbernya. Ia menambahkan bahwa Lahsamor bukanlah pengganti metode tradisional seperti 'teba moderen' yang sudah lazim di masyarakat Bali, melainkan sebagai pelengkap bagi warga yang memiliki keterbatasan lahan pekarangan.

Sebagai langkah strategis lanjutan, pemerintah juga berencana mengimplementasikan Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali mulai 8 Juli 2026. Proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi permanen untuk mengakhiri praktik open dumping yang dinilai berbahaya dan rentan memicu kebakaran serta dampak kesehatan bagi lingkungan sekitar.