Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh peredaran sebuah rekaman video yang menarasikan peristiwa letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau. Video yang diambil dari sudut pandang di atas kapal tersebut sempat memicu keresahan, terutama bagi masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Selat Sunda.

Setelah melakukan verifikasi mendalam, otoritas berwenang menegaskan bahwa konten tersebut merupakan informasi keliru atau hoaks. Video yang beredar luas di berbagai platform digital itu bukanlah dokumentasi aktivitas vulkanik terkini dari gunung api yang berlokasi di perairan Selat Sunda tersebut.

Badan Geologi Kementerian ESDM melalui pernyataan resminya menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau memang mencatatkan aktivitas erupsi pada awal Juli 2026, yakni pada tanggal 2 dan 3 Juli. Namun, karakteristik letusan yang terekam dalam video viral tersebut sangat berbeda dengan data visual hasil pantauan resmi petugas di lapangan.

Sebagai informasi, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang diawasi secara ketat oleh pos pengamatan di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Banten. Meski gunung ini memiliki sejarah erupsi yang signifikan, termasuk peristiwa tsunami pada Desember 2018, kondisi terkini gunung tersebut saat ini masih berada dalam masa jeda erupsi.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh unggahan yang belum terverifikasi kebenarannya. Publik diminta untuk selalu merujuk pada kanal informasi resmi milik Badan Geologi guna mendapatkan data akurat mengenai status dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.