Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang secara resmi mengklarifikasi narasi keliru yang sempat beredar di media sosial mengenai aktivitas Gunung Semeru. Sebelumnya, sebuah unggahan di platform TikTok mengklaim terjadinya letusan dahsyat yang memicu kepanikan ribuan warga, sebuah klaim yang ditepis keras oleh pihak otoritas setempat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menegaskan bahwa situasi di sekitar gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut tetap terkendali. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta menekankan pentingnya merujuk pada laporan resmi dari instansi pemerintah guna mencegah munculnya keresahan di tengah masyarakat.

Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi Gunung Semeru memang terjadi pada Sabtu (20/6/2026) dengan kolom abu setinggi 700 meter di atas puncak. Meski aktivitas vulkanik tercatat di seismogram dengan durasi singkat, status Gunung Semeru hingga saat ini masih bertahan di Level III atau Siaga.

Sebagai bentuk mitigasi, pihak berwenang terus mengingatkan warga untuk mematuhi zona larangan beraktivitas, terutama di sepanjang sektor tenggara Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari pusat erupsi. Masyarakat juga dilarang mendekati area kawah atau puncak dalam radius lima kilometer untuk menghindari bahaya lontaran material vulkanik.

BPBD Lumajang berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyaring informasi kebencanaan. Budaya verifikasi melalui kanal resmi pemerintah menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan warga serta mendukung kelancaran upaya mitigasi bencana yang dilakukan oleh pihak berwenang di lapangan.