Budaya mendukung idola atau yang dikenal sebagai 'oshikatsu' kini bukan sekadar hobi, melainkan telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi signifikan di Jepang. Data terbaru mencatat nilai pasar industri ini mencapai ¥4,1 triliun atau setara USD 25 miliar (sekitar Rp405 triliun). Besarnya antusiasme masyarakat terhadap anime, kreator konten, hingga idola musik membuat sektor ini menjadi motor penggerak konsumsi yang diperhatikan serius oleh Bank of Japan (BOJ).
Pertumbuhan pasar ini memicu gelombang partisipasi dari berbagai entitas bisnis. Bukti nyata terlihat dari antusiasme pameran Oshikatsu Expo di Tokyo, di mana jumlah perusahaan yang terlibat melonjak drastis dari 20 menjadi lebih dari 240 partisipan dalam kurun waktu dua tahun. Produk yang ditawarkan pun semakin bervariasi, mulai dari merchandise standar seperti casing ponsel hingga inovasi unik seperti parfum bertema idola yang dirancang khusus untuk menciptakan kedekatan emosional antara penggemar dan sosok favorit mereka.
Menariknya, tren ini turut merambah perusahaan manufaktur tradisional. Katani Co., sebuah produsen lembaran emas legendaris yang telah beroperasi selama 127 tahun, kini beralih melayani kebutuhan penggemar dengan memproduksi altar berlapis emas eksklusif untuk memajang foto idola. Langkah ini membuktikan bahwa ekonomi fandom telah menembus batas-batas industri konvensional dan menjadi ceruk pasar yang sangat menjanjikan.
Di sisi lain, pengamat industri mencatat bahwa ekosistem ini tidak hanya bertumpu pada penjualan produk resmi. Layanan berbasis komunitas, seperti iklan mandiri dari penggemar hingga konsultasi spesifik, turut menyuburkan ekosistem bisnis ini. Faktor demografis di Jepang, di mana semakin banyak masyarakat yang memiliki waktu luang dan pendapatan lebih akibat penurunan tren berkeluarga, menjadi alasan utama pergeseran pola belanja konsumen dari hobi tradisional seperti otomotif menuju konsumsi hiburan.
Meski jumlah pengeluaran rata-rata per individu sempat mengalami sedikit penurunan seiring dengan bertambahnya basis penggemar kasual, prospek ekonomi penggemar di Jepang tetap dipandang cerah. Transformasi pasar ini menunjukkan bahwa keterikatan emosional terhadap figur idola telah menjadi katalisator penting bagi stabilitas ekonomi ritel Jepang di tengah tantangan inflasi.