Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, masih menunjukkan intensitas tinggi. Sepanjang tahun 2026 hingga pertengahan Juli, gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat telah mengalami 1.486 kali erupsi, dengan status aktivitas yang tetap dipertahankan pada Level III atau Siaga.

Laporan terbaru dari Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat terjadinya tujuh kali erupsi beruntun dalam kurun waktu enam jam pada Kamis (16/7/2026) dini hari hingga pagi. Letusan yang teramati memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 700 hingga 1.100 meter di atas puncak kawah, atau sekitar 4.776 meter di atas permukaan laut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menjelaskan bahwa aktivitas kegempaan didominasi oleh gempa letusan dan guguran. Pada periode pengamatan Kamis pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, terekam 15 kali gempa letusan beramplitudo 13-22 milimeter. Sehari sebelumnya, aktivitas bahkan lebih intens dengan 66 kali gempa letusan serta satu kali luncuran awan panas guguran.

Merespons kondisi yang belum mereda ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat untuk mematuhi rekomendasi zona bahaya. Warga dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak, serta area sejauh 500 meter dari tepi sungai guna mengantisipasi perluasan awan panas dan banjir lahar yang berpotensi meluncur hingga jarak 17 kilometer.

Selain itu, radius steril sejauh lima kilometer dari kawah aktif juga diberlakukan untuk menghindari ancaman lontaran batu pijar. Peringatan serupa turut berlaku di sepanjang aliran anak sungai seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat yang berhulu langsung di puncak Semeru, mengingat akumulasi material vulkanik di kawah masih sangat dinamis dan berpotensi runtuh sewaktu-waktu.