Pihak manajemen SMA Negeri 1 Solok Selatan, Sumatra Barat, mengambil tindakan tegas dengan menonaktifkan seorang guru olahraga berinisial VV (30) dari aktivitas mengajar. Langkah ini diambil menyusul adanya laporan mengenai pengiriman pesan singkat dengan narasi tidak wajar oleh oknum pendidik tersebut kepada sejumlah siswa laki-laki.
Keputusan penonaktifan ini menyusul aksi unjuk rasa yang digelar para siswa di halaman sekolah pada Senin (27/7/2026) lalu. Dalam aksi tersebut, puluhan pelajar mendesak pihak sekolah untuk segera memberhentikan sang guru karena dinilai telah melanggar etika profesi keguruan. Kejadian ini juga sempat viral di media sosial setelah tangkapan layar percakapan tersebut tersebar luas.
Kepala SMAN 1 Solok Selatan, Mairisna, mengonfirmasi bahwa penonaktifan sementara VV dilakukan demi menjaga stabilitas dan kenyamanan proses belajar-mengajar di sekolah. Ia berharap langkah ini dapat meredam keresahan para siswa dan orang tua murid agar kegiatan akademis dapat kembali berjalan dengan kondusif.
Mairisna turut mengklarifikasi berbagai isu liar yang berkembang di media sosial. Berdasarkan hasil pemeriksaan internal sekolah, tuduhan mengenai adanya tindakan kekerasan fisik atau pelecehan seksual secara fisik sama sekali tidak terbukti. Bukti yang ditemukan sejauh ini hanya berupa dokumen digital berisi percakapan pesan tidak etis kepada tiga siswa kelas 11.
Kasus ini pertama kali terungkap setelah orang tua murid menemukan percakapan bernada tidak wajar tersebut di ponsel anak mereka. Meskipun terduga pelaku beralasan pesan itu dikirim atas dasar kedekatan personal layaknya adik sendiri, pihak sekolah menilai tindakan tersebut melampaui batas hubungan profesional antara guru dan murid.