Pasar properti di Vietnam menunjukkan fenomena paradoks sepanjang paruh pertama tahun 2026. Data terbaru dari Kantor Statistik Umum mencatat sebanyak 1.463 perusahaan properti terpaksa melakukan pembubaran, sebuah lonjakan tajam sebesar 120,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Selain pembubaran, tercatat pula 2.971 entitas bisnis memilih untuk menangguhkan kegiatan operasional mereka.

Kondisi ini mencerminkan proses seleksi alam yang sangat ketat di industri ini. Banyak perusahaan dengan fondasi keuangan yang rapuh, kendala pasokan, serta krisis arus kas akhirnya menyerah pada tekanan pasar. Meski begitu, gairah kewirausahaan di sektor ini tidak sepenuhnya padam; data menunjukkan terdapat 3.192 perusahaan baru yang berdiri, meningkat 23,3% dibanding tahun lalu, serta 2.445 bisnis yang memutuskan untuk kembali beroperasi.

Di sisi lain, daya tarik properti bagi investor asing tetap memikat. Kementerian Keuangan melaporkan bahwa sektor properti berhasil menarik modal asing (FDI) sebesar US$5,1 miliar dalam enam bulan pertama tahun 2026, menempatkannya di posisi kedua setelah sektor manufaktur. Besarnya arus investasi ini didorong oleh minat investor global pada proyek-proyek berskala besar yang memiliki visi jangka panjang, meski pasar domestik belum menunjukkan performa yang sebanding.

Kesenjangan antara aliran modal asing dan daya beli domestik menjadi tantangan utama saat ini. Minat beli masyarakat dilaporkan menurun sekitar 5% pada bulan Mei lalu. Survei terbaru mengungkap bahwa hanya 36% responden yang memiliki niat membeli properti, angka yang merosot tajam dibandingkan 55% pada tahun sebelumnya. Mayoritas calon pembeli kini memilih untuk mengambil sikap 'tunggu dan lihat' selama setidaknya satu tahun ke depan sebelum memutuskan untuk berinvestasi kembali di sektor ini.