Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi canggih dan percepatan hilirisasi industri kelapa sawit harus memberikan dampak nyata bagi seluruh lapisan pelaku usaha, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah ini dinilai krusial agar pelaku usaha kecil tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi serta bersaing di rantai industri nasional.
Helmi Muhansyah, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, menekankan bahwa penguatan sumber daya manusia dan adopsi inovasi menjadi pilar utama untuk meningkatkan kualitas produk turunan sawit. Hingga pertengahan 2026, BPDP tercatat telah menginisiasi 52 program pemberdayaan melalui sinergi lintas sektor, mulai dari keterlibatan perguruan tinggi, asosiasi petani, hingga institusi pendidikan seperti pondok pesantren.
Atas konsistensi dalam membina pelaku usaha kecil, BPDP berhasil meraih penghargaan 'Excellence Institution in Empowering Micro, Small, and Medium Palm Oil Enterprises' dalam gelaran 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026. Forum yang berlangsung pada 8-10 Juli tersebut menjadi titik temu strategis antara pemerintah, praktisi, dan penyedia teknologi untuk mendiskusikan masa depan industri sawit nasional.
Dalam ajang tersebut, berbagai terobosan teknologi turut dipamerkan, mulai dari otomatisasi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) hingga perangkat lunak efisiensi energi. Inovasi ini diharapkan mampu mendorong UMKM untuk lebih kompetitif dalam mengolah komoditas sawit, kelapa, hingga kakao, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.