JAKARTA – Pelaku industri pertambangan di Indonesia didorong untuk tidak hanya berfokus pada aktivitas hulu seperti eksploitasi bijih mineral, melainkan juga harus mulai menguasai teknologi hilir, khususnya pembuatan baterai. Langkah strategis ini dinilai krusial agar Indonesia mampu membangun ekosistem kendaraan listrik (EV) secara mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada produk impor.

Seruan tersebut disampaikan oleh pendiri National Battery Research Institute (NBRI), Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, M.Sc., dalam forum Training to Miners (TTM) Seri Ke-8 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) di Hotel Le Meridien, Jakarta. Dalam kesempatan itu, Prof. Evvy menepis anggapan publik bahwa teknologi pembuatan baterai merupakan hal yang terlampau rumit untuk dipelajari.

Menurut fisikawan terkemuka ini, pemahaman dasar hingga praktik pembuatan baterai sebenarnya dapat dikuasai dalam waktu singkat melalui pelatihan yang intensif. NBRI sendiri tercatat telah melatih lebih dari seribu peserta dari berbagai korporasi besar seperti PLN, Pertamina, hingga raksasa otomotif seperti Toyota dan Astra. Pelatihan tersebut mencakup teori mendalam hingga praktik langsung pembuatan sel baterai, perakitan battery pack, serta teknik konversi sepeda motor listrik.

Selain fokus pada bidang edukasi, lembaga riset independen ini juga aktif memberikan solusi teknis bagi industri skala besar. Prof. Evvy mencontohkan bagaimana timnya membantu melakukan analisis komputasi untuk mengatasi gangguan operasional di pabrik baterai berkapasitas 10 GWh, yang berhasil menyelamatkan industri tersebut dari potensi kerugian finansial yang signifikan.

Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya regulasi terkait pengelolaan daur ulang baterai kendaraan listrik yang telah habis masa pakainya. Prof. Evvy mendesak pemerintah untuk segera menerapkan skema Extended Producer Responsibility (EPR), yang mewajibkan produsen untuk menarik dan mengolah kembali baterai bekas guna mencegah masalah lingkungan di masa depan.

Sebagai penutup, ia optimistis bahwa kekayaan sumber daya alam, khususnya nikel yang melimpah, akan menjadi kekuatan penuh bagi Indonesia jika disandingkan dengan penguasaan sains dan teknologi. Kolaborasi erat antar-pemangku kepentingan menjadi kunci utama untuk membawa Indonesia sebagai pemain kunci dalam peta industri baterai global.