Dua raksasa korporasi nasional, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), resmi memperluas jangkauan bisnis mereka ke sektor energi baru terbarukan melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kepastian ini diperoleh setelah entitas afiliasi dari kedua emiten tersebut berhasil memenangkan tender PSEL Tahap II yang diselenggarakan oleh BPI Danantara melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera).
Dalam proyek ini, Chandra Asri melalui anak usaha tidak langsungnya, PT Chandra Waste Energy—yang berada di bawah naungan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)—bermitra dengan Beijing GeoEnviron Engineering and Tech Inc dalam Konsorsium Masa Depan Energi Indonesia. Konsorsium ini ditunjuk untuk menggarap PSEL Serang Raya dengan target kapasitas pengolahan mencapai 1.161 ton sampah per hari. Entitas ini sebelumnya bernama PT Chandra Global Maritim dan telah bertransformasi dari bisnis angkutan laut ke sektor pengelolaan sampah energi sejak 2025.
Langkah strategis ini memperkuat komitmen lingkungan TPIA yang sebelumnya telah memanfaatkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif co-firing di fasilitas Pulo Ampel, Serang. Pemanfaatan RDF yang berjalan sejak pertengahan 2025 tersebut tercatat berhasil mengurangi emisi karbon secara signifikan.
Di sisi lain, Bakrie & Brothers melalui PT Bakrie Power, di bawah kendali PT Bakrie Metal Industries (BMI), bergabung dalam Konsorsium Mentari Citra Lestari bersama PT Acritas Karya Persada dan SUS Indonesia Holding Limited. Konsorsium ini akan mengelola proyek PSEL Surabaya Raya dengan kapasitas pengolahan sebesar 1.100 ton sampah per hari. Proyek baru ini diyakini akan melengkapi portofolio energi hijau Bakrie Power yang telah mencakup pembangkit listrik tenaga surya, uap, hingga panas bumi.
Analisis dari Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa keterlibatan kedua emiten dalam proyek PSEL ini menjadi katalis pertumbuhan baru bagi lini bisnis energi bersih mereka. Kendati demikian, valuasi pasar saat ini menunjukkan saham TPIA dan BNBR diperdagangkan dengan rasio PBV dan PER yang relatif premium dibandingkan dengan rata-rata sektor industrinya masing-masing.