CEO Tesla, Elon Musk, secara tegas membantah spekulasi yang menyebutkan bahwa perusahaan otomotif listrik miliknya berencana menjual atau memisahkan (spin-off) unit bisnisnya di China. Rumor tersebut mengeklaim langkah divestasi ini diambil demi membuka jalan bagi merger strategis dengan perusahaan kedirgantaraan SpaceX. Musk secara langsung melabeli laporan tersebut sebagai berita bohong (fake news).
Bantahan senada juga datang dari pihak internal Tesla China. Melalui pernyataan resmi kepada media lokal Tiongkok, The Paper, perwakilan perusahaan menegaskan bahwa kabar divestasi unit bisnis tersebut sepenuhnya tidak berdasar. Isu ini sebelumnya sempat memicu kehebohan setelah beredar laporan dari media internasional yang mengeklaim Tesla sedang mempertimbangkan restrukturisasi besar-besaran di pasar Asia Timur tersebut.
Bagi Tesla, pasar China memiliki nilai yang sangat krusial dalam rantai pasok global mereka. Gigafactory Shanghai saat ini berfungsi sebagai pusat produksi utama yang tidak hanya memenuhi permintaan domestik, tetapi juga mengekspor kendaraan listrik ke kawasan Asia-Pasifik, Eropa, hingga Kanada. Selain itu, Negeri Tirai Bambu tercatat sebagai pasar terbesar kedua bagi Tesla setelah Amerika Serikat.
Meskipun rumor merger telah dibantah, pelaku pasar terus berspekulasi mengenai potensi kolaborasi yang lebih erat antara Tesla dan SpaceX di masa depan, khususnya dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), robotika, dan sistem otonom. Menyusul klarifikasi ini, pergerakan saham Tesla di bursa ditutup menguat sebesar 3,53 persen ke level USD 308,85, sementara saham SpaceX mengalami koreksi tipis sebesar 0,31 persen ke posisi USD 112,20.