Gunung Semeru yang terletak di Jawa Timur kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan meluncurkan abu setinggi kurang lebih 800 meter di atas puncak, atau sekitar 4.476 meter di atas permukaan laut pada Selasa siang (14/7/2026) pukul 14.15 WIB. Erupsi ini menambah daftar panjang aktivitas vulkanik Semeru, yang tercatat telah mengalami 17 kali letusan dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Berdasarkan pemantauan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui sistem MAGMA Indonesia, kolom abu yang dihasilkan berwarna putih hingga kelabu tebal dan bergerak condong ke arah timur. Peristiwa letusan ini terekam pada alat seismograf dengan kekuatan amplitudo maksimum mencapai 22 milimeter dan berdurasi selama 148 detik.

Hingga saat ini, status kebencanaan Gunung Semeru masih bertahan pada Level III atau Siaga. Pada pemantauan kegempaan yang dilakukan antara pukul 06.00 hingga 12.00 WIB di hari yang sama, petugas mencatat terjadi 14 kali gempa letusan, 7 kali gempa guguran, serta 4 kali gempa hembusan. Hal ini menunjukkan dinamika vulkanik di dalam tubuh gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih sangat aktif.

Merespons situasi tersebut, PVMBG mengeluarkan rekomendasi keamanan bagi warga setempat. Masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, warga juga diminta menjauhi area sempadan sungai pada jarak 500 meter di sepanjang aliran Besuk Kobokan guna menghindari ancaman luapan awan panas guguran serta banjir lahar dingin yang berpotensi melanda hingga jarak 17 kilometer.

Sepanjang tahun 2026, intensitas erupsi gunung api di Indonesia tergolong tinggi. Dari total 3.174 letusan gunung berapi yang terekam di seluruh tanah air, Gunung Semeru menempati posisi teratas dengan frekuensi letusan terbanyak yang mencapai 1.402 kali kejadian.