Bandung - Perkembangan teknologi komunikasi yang melaju pesat menuntut industri media dan para jurnalis untuk terus beradaptasi secara dinamis. Meski demikian, transisi dari era media cetak ke platform digital dinilai tidak boleh mengikis prinsip dasar serta integritas kerja jurnalistik.

Hal tersebut ditegaskan oleh Tantan Sulthon Bukhawan, salah satu tokoh pers yang kini mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat untuk periode 2027-2031. Pria yang telah berkiprah di dunia pers sejak awal tahun 2000-an ini menekankan pentingnya peningkatan kompetensi wartawan agar mampu berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan arah.

Menurut Tantan, kehadiran media sosial kerap membuat arus informasi mentah menyebar lebih cepat daripada pemberitaan media konvensional. Fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para jurnalis. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa kecepatan dalam menyajikan berita tidak boleh sampai mengorbankan akurasi dan nilai tanggung jawab terhadap publik.

Perjalanan karier Tantan yang dimulai sejak tahun 2002 sebagai wartawan di Harian Umum Mitra Dialog (Pikiran Rakyat Group), berlanjut ke Harian Seputar Indonesia (Sindo), hingga akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi InilahKoran, memberikan perspektif mendalam mengenai pasang surut industri pers. Bagi dirinya, esensi utama seorang jurnalis adalah kemampuan untuk mendengar, memverifikasi fakta, dan menyajikan informasi secara jernih.

Ia optimistis bahwa melalui peningkatan kapasitas diri yang konsisten, profesi wartawan akan tetap menjadi pilar penting dalam mencerdaskan publik. Tantan memandang dunia jurnalistik bukan sekadar lahan pekerjaan, melainkan sebuah ruang pengabdian untuk menjadi agen perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.