Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) menegaskan urgensi transformasi sektor kelapa sawit nasional melalui penguatan hilirisasi dan integrasi teknologi digital. Langkah ini dinilai krusial guna meningkatkan nilai tambah produk serta menjawab tantangan dinamika pasar global yang semakin menuntut efisiensi dan keberlanjutan.

Dalam gelaran Temu Ilmiah III yang bertepatan dengan Dies Natalis ke-10 ITP2I, Rektor ITP2I, Tengku Dahril, menekankan bahwa pihaknya tengah memacu peningkatan kualifikasi akademik tenaga pengajar hingga tingkat doktoral. Upaya ini bertujuan agar institusi pendidikan tinggi tersebut mampu menjadi pusat riset yang menghasilkan solusi inovatif bagi permasalahan nyata di lapangan perkebunan.

Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Pelalawan, Mayhendri, menambahkan bahwa ketergantungan pada penjualan bahan mentah harus segera diakhiri. Menurutnya, hilirisasi produk turunan kelapa sawit adalah kunci utama untuk menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat secara luas di tingkat daerah.

Selain hilirisasi, transformasi digital melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan sistem pertanian cerdas menjadi agenda utama dalam diskusi tersebut. Teknologi ini diharapkan mampu mengoptimalkan produktivitas industri sekaligus menjawab tantangan sertifikasi internasional, seperti ISPO, dan kepatuhan terhadap isu lingkungan global.

Forum internasional yang dihadiri oleh akademisi dari Thailand, Malaysia, serta praktisi industri dari Nigeria ini diharapkan melahirkan rekomendasi strategis. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem kelapa sawit Indonesia yang lebih modern, kompetitif, dan tetap menjaga prinsip kelestarian lingkungan.