Upaya pemadaman api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin hingga kini masih terus diintensifkan. Memasuki hari ketujuh sejak insiden dimulai pada Selasa (30/6), petugas dari BPBD dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang masih berjuang keras melokalisasi titik api yang terus mengeluarkan asap pekat.

Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam terkait kualitas udara di sekitar area TPA. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa pembakaran sampah menghasilkan spektrum polutan berbahaya, mulai dari amonia (NH3), karbon monoksida (CO), hingga sulfur dioksida (SO2) yang dapat mengancam kesehatan masyarakat secara langsung.

Selain gas kimia, pembakaran tersebut juga melepaskan partikel mikroskopis berupa Particulate Matter (PM 10 hingga PM 2,5). Partikel kecil ini memiliki kemampuan penetrasi hingga ke bagian terdalam paru-paru yakni alveolus. Prof. Tjandra menambahkan, senyawa organik volatil dan bahan kimia aromatik yang dilepaskan dapat memicu reaksi inflamasi dalam tubuh.

Dampak kesehatan yang ditimbulkan cukup luas, mulai dari gejala ringan seperti sakit kepala, iritasi mata, hingga gangguan kulit dan pencernaan. Dalam jangka panjang, paparan asap ini berisiko menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta memicu serangan asma pada penderita penyakit paru kronis.

Kelompok rentan, termasuk lansia, ibu hamil, dan anak-anak, diminta untuk lebih waspada dan menghindari area terpapar asap. Prof. Tjandra menegaskan bahwa situasi ini memerlukan penanganan serius dari para pemangku kebijakan guna memitigasi dampak kesehatan jangka panjang bagi penduduk di sekitar TPA Jatiwaringin.