Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkomitmen memperkuat sistem ketahanan kesehatan nasional melalui akselerasi transformasi pelayanan kesehatan primer. Langkah strategis ini dibahas secara mendalam dalam forum ilmiah Leimena Conference 2026: Indonesia Primary Health Care Scientific Meeting yang berlangsung di Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa reformasi ini mengubah paradigma pelayanan kesehatan di tanah air. Jika sebelumnya berorientasi pada program spesifik, kini layanan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan berdasarkan siklus hidup masyarakat, mulai dari bayi hingga lansia. Langkah ini merupakan kelanjutan dari evaluasi sistem kesehatan pascapandemi COVID-19.

Model pelayanan baru ini sebelumnya telah diuji coba di sembilan wilayah sepanjang periode 2022-2023. Pemerintah kemudian meresmikan model ini sebagai standar nasional melalui Keputusan Menteri Kesehatan pada tahun 2024. Saat ini, tercatat sekitar 9.000 Puskesmas atau setara dengan 87 persen dari total Puskesmas di seluruh Indonesia telah mengadopsi sistem transformasi tersebut.

Penguatan sistem kesehatan ini tidak hanya menyasar Puskesmas, melainkan juga menyentuh tingkat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Sejak tahun 2023, Kemenkes telah mendata sekitar 1,5 juta kader Posyandu untuk memetakan kompetensi mereka. Hingga kini, sebanyak 303.209 Posyandu tercatat aktif memberikan layanan bulanan dengan dukungan kader yang terlatih.

Guna menjaga mutu pelayanan, Kemenkes menetapkan standar 125 keterampilan dasar yang wajib dikuasai kader Posyandu. Evaluasi berkala pun telah dilakukan terhadap sekitar 485 ribu kader. Bersamaan dengan itu, Kemenkes meluncurkan pedoman pelayanan kesehatan desa dan kelurahan terbaru agar tenaga medis dapat memetakan kelompok rentan di wilayah tugas masing-masing secara lebih personal dan tepat sasaran.

Konferensi ilmiah bertajuk Integrating Research into Primary Health Care ini dihadiri oleh 450 peserta secara langsung serta diikuti oleh ribuan partisipan lainnya melalui platform daring. Kemenkes menerima sekitar 700 abstrak penelitian ilmiah, di mana 537 di antaranya akan dibukukan dalam prosiding dan hasil kajian terbaik akan diterbitkan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

Agenda berskala nasional ini turut didukung oleh lembaga internasional seperti UNICEF, WHO, dan Global Fund yang memberikan bantuan perjalanan bagi 80 peserta dari berbagai daerah. Selain itu, Pemerintah Australia melalui DFAT serta Bill & Melinda Gates Foundation melalui Primary Health Care Consortium juga turut memfasilitasi kelancaran acara ilmiah ini.