Lereng Gunung Merbabu di Dusun Warangan, Magelang, mendadak dipadati ribuan pasang mata dalam perhelatan Festival Lima Gunung (FLG) XXV. Perayaan yang memasuki usia perak ini membawa nuansa berbeda, di mana barisan kirab budaya tidak lagi mengusung kemegahan hasil bumi yang melimpah, melainkan gunungan sayur yang tampil sederhana dan apa adanya.

Ketidaksempurnaan susunan gunungan yang hanya berisi sawi, terong, dan daun singkong ini menjadi refleksi jujur atas kondisi pertanian yang sedang menantang. Seniman sekaligus pembawa acara, Sih Agung Prasetyo, menyebut fenomena ini sebagai penanda zaman yang getir, di mana masyarakat sedang menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu namun tetap mempertahankan rasa syukur atas apa yang tersisa.

Mengusung tema kontemplatif "Makin Goblok Bareng", festival yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi momentum pulang kampung bagi Komunitas Lima Gunung ke titik kelahirannya di tahun 2001. Kendati dibatasi oleh kurasi ketat terhadap 85 grup kesenian dari berbagai daerah, antusiasme seniman tetap memuncak, membuktikan daya tarik tradisi yang tetap relevan bagi masyarakat luas.

Di balik kemeriahan panggung utama yang megah dengan tata cahaya modern, terdapat prinsip kemandirian yang terus dijaga oleh komunitas ini. Berbeda dengan festival berskala besar pada umumnya, FLG XXV memilih jalur merdeka dengan meniadakan sponsor korporasi maupun dana pemerintah, menegaskan bahwa martabat kesenian tidak harus selalu bergantung pada sokongan pihak luar.

Festival tahun ini tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan, melainkan sebuah pernyataan sikap. Melalui perpaduan seni, tradisi, dan kemandirian ekonomi, Komunitas Lima Gunung berhasil membuktikan bahwa esensi kebudayaan adalah tentang merawat kejujuran di akar rumput, di tengah arus zaman yang terus berganti.