PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar pada paruh pertama tahun 2026. Meskipun angka ini berbanding terbalik dengan perolehan laba bersih Rp627,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu, performa negatif tersebut dinilai tidak mencerminkan adanya kemunduran pada sektor bisnis inti perseroan.
Penyusutan pada laporan laba-rugi tersebut utamanya disebabkan oleh biaya pembiayaan kembali (refinancing) yang bersifat satu kali (one-off). Langkah korporasi ini diambil ketika Jababeka mengonversi utang surat utang senior (Senior Notes) berdenominasi dolar AS menjadi pinjaman perbankan dalam mata uang rupiah. Proses akuntansi refinancing ini memicu rugi selisih kurs serta penghentian instrumen derivatif yang menekan laba bersih.
Dari sisi operasional, emiten berkode saham KIJA ini sebenarnya masih menunjukkan kinerja yang kokoh dengan membukukan laba operasi sebesar Rp524 miliar. Penurunan laba operasi dari posisi Rp822,8 miliar pada semester I-2025 lebih dipengaruhi oleh perbedaan waktu dalam pengakuan pendapatan dari penjualan lahan industri di Kendal, Jawa Tengah, bukan karena melemahnya permintaan pasar.
Sektor penopang utama justru datang dari pilar infrastruktur yang tumbuh 15 persen menjadi Rp1,398 triliun. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan konsumsi listrik oleh penyewa kawasan, penyediaan air bersih, pengelolaan area, hingga layanan logistik di Cikarang Dry Port. Segmen infrastruktur kini berkontribusi sebesar 57 persen terhadap total pendapatan, memperkuat basis pendapatan berulang (recurring revenue) perusahaan agar lebih stabil.
Sementara itu, lini bisnis pengembangan lahan dan properti mencatat penurunan 32 persen menjadi Rp974,9 miliar akibat fluktuasi waktu pengakuan penjualan lahan industri. Meski begitu, penjualan bangunan pabrik siap pakai dan unit hunian justru menunjukkan tren peningkatan. Secara konsolidasi, pendapatan Jababeka tercatat sebesar Rp2,44 triliun dengan perolehan EBITDA mencapai Rp747,7 miliar.
Wakil Direktur Utama Jababeka, Budianto Liman, menjelaskan bahwa kerugian bersih yang dilaporkan murni merupakan dampak penyesuaian pos nonoperasional. Hingga Juni 2026, perseroan telah mengamankan prapenjualan (marketing sales) sebesar Rp1,19 triliun, atau sekitar 32 persen dari target tahunan Rp3,75 triliun, didukung oleh masuknya produsen baterai, alat rumah tangga, dan tekstil di kawasan industri Cikarang serta Kendal.