Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, menyoroti ketidakjelasan skema bisnis dalam kolaborasi strategis antara Perum Perumnas dan PT Telkomsel di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Samesta Mahata, Depok. Meski mengapresiasi sinergi dalam bentuk konektivitas digital dan dukungan pemasaran melalui jaringan GraPARI, legislator tersebut menegaskan bahwa langkah ini belum cukup untuk memulihkan kondisi keuangan Perumnas.
Darmadi menekankan bahwa kolaborasi antar-BUMN seharusnya tidak hanya bersifat operasional, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara. Menurutnya, keterlibatan Telkomsel dalam proyek tersebut perlu diiringi dengan skema bagi hasil (profit sharing) yang transparan dan terukur agar Perumnas dapat keluar dari beban kerugian akibat berbagai penugasan pemerintah.
"Kami di Komisi VI terus menekankan agar pembagian keuntungan dari kerja sama ini jelas. Telkomsel mendapatkan pendapatan dari kolaborasi tersebut, maka perlu ada perhitungan yang konkret mengenai kontribusi finansial yang kembali kepada Perumnas," ujar Darmadi.
Lebih lanjut, politisi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi berkala terhadap model bisnis digital tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pengawasan agar investasi negara tidak menjadi sia-sia, sekaligus memastikan bahwa sinergi tersebut mampu memperkuat fundamental bisnis Perumnas di masa depan.