Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kebudayaan mengambil langkah nyata dalam menyelamatkan warisan budaya tak benda dengan menggelar Festival Olahraga Tradisional 2026. Berpusat di Lapangan Trirenggo, Bantul, pada Kamis (30/7/2026), ajang ini mempertemukan puluhan pelajar untuk berkompetisi dalam permainan tradisional Gobak Sodor.

Sebanyak 84 siswa-siswi yang terbagi ke dalam 14 perwakilan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Bantul turut ambil bagian dalam kompetisi ini. Pertandingan terbagi rata menjadi tujuh tim putra dan tujuh tim putri, di mana mereka saling menguji ketangkasan, kerja sama tim, serta sportivitas di lapangan hijau.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Sarjiman, yang hadir mewakili Kepala Dinas, menegaskan pentingnya menempatkan olahraga tradisional sebagai pilar kebudayaan daerah. Ia menepis anggapan keliru bahwa sektor olahraga dan kebudayaan berjalan sendiri-sendiri, mengingat permainan rakyat merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian status desa budaya.

Lebih lanjut, Sarjiman menyoroti tantangan zaman di mana generasi muda saat ini cenderung lebih akrab dengan gawai pintar (gadget) ketimbang berinteraksi sosial lewat permainan fisik. Kondisi inilah yang melatarbelakangi pemerintah daerah untuk terus membuka ruang kreatif agar permainan tradisional seperti Gobak Sodor, Egrang, dan Cublak-cublak Suweng tidak punah ditelan modernisasi.

Melalui festival berkala semacam ini, Pemkab Bantul berharap olahraga tradisional tidak hanya sekadar menjadi materi praktis dalam mata pelajaran olahraga di sekolah. Ajang ini diharapkan mampu mengembalikan marwah Gobak Sodor sebagai permainan masyarakat yang rekreatif sekaligus instrumen efektif dalam merawat jati diri kebudayaan lokal.