Empat mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) berhasil mengukir prestasi gemilang di kancah internasional melalui dua inovasi di bidang hukum kesehatan dan terapi medis. Dalam ajang 4th International Youth Conference yang diselenggarakan atas kerja sama Asia Pacific Student Association dengan Nanyang Technological University pada akhir Juni 2026, tim ini sukses membawa pulang tiga penghargaan bergengsi.
Inovasi pertama yang diusung oleh Dhimas Hardi Nugraha (Farmasi), serta Dyah Rahmadhani Saraswati, Rafidah Nurul Inaya, dan Linda Dwi Perwita (Kedokteran) adalah sistem pelaporan digital pelindung hak pasien. Platform ini dirancang untuk mengatasi berbagai kendala administratif, diskriminasi, hingga kualitas layanan di fasilitas kesehatan dengan menghubungkan pasien, manajemen rumah sakit, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah (NGO) secara transparan.
Keunggulan utama sistem ini terletak pada aspek akuntabilitasnya yang melibatkan NGO sebagai pihak ketiga yang independen. Jika sebuah aduan hukum atau pelayanan tidak ditindaklanjuti dalam kurun waktu tertentu, NGO akan melakukan mitigasi langsung untuk memastikan hak-hak pasien maupun tenaga medis tetap terlindungi dan mendapatkan penyelesaian konkret.
Selain fokus pada sistem hukum kesehatan, tim mahasiswa UNEJ ini juga mengembangkan terapi kanker nasofaring berbasis teknologi genetik Fusogenic Nanovesicles (FuNV) T Cell. Metode ini dirancang untuk menyerang sel kanker secara spesifik tanpa merusak sel sehat di sekitarnya, sehingga menawarkan efek samping yang jauh lebih minim dibandingkan dengan kemoterapi atau radioterapi konvensional.
Berkat kedua terobosan tersebut, tim ini meraih Gold Medal pada kategori Law & Economic serta juara ketiga pada kompetisi esai untuk platform pelaporan hak pasien. Sementara itu, gagasan terapi kanker nasofaring berhasil menyabet Silver Medal di bidang kesehatan. Konsep perlindungan hak asasi manusia berbasis digital ini bahkan mendapat apresiasi khusus dari dewan juri internasional yang berharap proyek ini segera mendapatkan pendanaan untuk diimplementasikan secara nyata.
Perwakilan tim, Dhimas Hardi Nugraha, berharap pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk berani berkompetisi di tingkat global. Menurutnya, ajang internasional adalah sarana terbaik untuk mengukur kemampuan diri, memperluas wawasan, dan menciptakan solusi nyata yang berdampak langsung bagi kemaslahatan masyarakat luas.