Kawasan Gunung Kawi di Kabupaten Malang kembali menjadi sorotan tajam di jagat maya. Berbagai perbincangan di media sosial belakangan ini kerap mengaitkan destinasi ziarah tersebut dengan praktik mistis pesugihan yang melibatkan tokoh publik. Meski isu tersebut terus bergulir, narasi yang berkembang sering kali mengaburkan nilai sejarah dan signifikansi spiritual yang sebenarnya telah melekat pada kawasan ini selama berpuluh-puluh tahun.

Pusat dari kawasan ini adalah Pesarean Gunung Kawi di Desa Wonosari, tempat peristirahatan terakhir dua tokoh yang dihormati masyarakat setempat: Mbah Jugo atau Kanjeng Kyai Zakaria II dan pengikutnya, Raden Mas Iman Soedjono. Mbah Jugo dikenal sebagai sosok bangsawan yang menanggalkan kemewahan demi mengabdikan diri pada masyarakat. Kisah tentang bantuannya dalam mengatasi wabah penyakit di Desa Jugo melalui doa dan pengobatan herbal menjadi legenda yang membentuk karakter kepemimpinan serta empati beliau di mata warga.

Peralihan citra Gunung Kawi sebagai simbol kesuksesan material diyakini bermula dari pengalaman spiritual pengusaha rokok, Ong Hok Liong, pada era 1950-an. Kesuksesan bisnisnya setelah berziarah sering ditafsirkan oleh masyarakat luas sebagai bentuk keberuntungan, yang kemudian berkembang menjadi tradisi lisan bahwa tempat ini mampu membuka pintu rezeki. Namun, para pengelola dan peziarah setia menegaskan bahwa klaim tersebut hanyalah salah satu sisi dari keberagaman niat pengunjung yang datang.

Saat ini, Gunung Kawi menjadi titik temu antara tradisi spiritual, sejarah budaya, dan persepsi publik yang beragam. Sementara sebagian orang datang untuk mencari ketenangan batin dan mengenang jasa tokoh yang dimakamkan di sana, konten-konten media sosial justru kerap memicu perdebatan mengenai batas antara ziarah spiritual dan ritual yang dianggap tidak lazim. Fenomena ini menunjukkan adanya jurang interpretasi antara nilai historis yang dipegang masyarakat lokal dengan stigma yang terbentuk melalui narasi digital masa kini.