Korem 072/Pamungkas mendorong pemanfaatan teknologi geospasial yang terintegrasi guna memperkuat sistem peringatan dini terhadap potensi ancaman militer maupun non-militer. Langkah strategis ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Kajian Jangka Panjang yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) di Depok, Sleman, Yogyakarta, pada Rabu (22/7/2026).
Acara bertajuk “Optimalisasi Teknologi Geospasial Guna Memantapkan Sistem Peringatan Dini Terhadap Potensi Ancaman Negara” tersebut dipimpin oleh Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI, Mayjen TNI (Mar) Ipung Purwadi. Pertemuan ini dirancang untuk menghimpun masukan konstruktif dari berbagai pemangku kepentingan guna dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan pertahanan nasional yang akan diserahkan langsung kepada Presiden RI.
Kepala Staf Korem (Kasrem) 072/Pamungkas, Kolonel Inf Teguh Wiratama, yang hadir sebagai narasumber utama memaparkan bahwa wilayah kerja Korem 072/Pamungkas—meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta dan eks-Karesidenan Kedu—memiliki tingkat kerawanan yang kompleks. Selain ancaman bencana alam seperti aktivitas Gunung Merapi dan potensi tsunami di pesisir selatan, wilayah ini juga menghadapi tantangan sosial seperti kriminalitas jalanan dan konflik komunal.
Untuk merespons dinamika tersebut, Korem 072/Pamungkas saat ini mengandalkan tiga instrumen pemetaan utama. Instrumen tersebut mencakup peta kerawanan sosial dan demografi, peta titik rawan kriminalitas, serta peta navigasi cepat dan jalur evakuasi darurat. Kolonel Teguh menekankan pentingnya kolaborasi data lintas sektor untuk memastikan kesiapan aparat dalam menghadapi situasi kritis secara cepat dan tepat.
Gagasan penguatan tata kelola geospasial ini turut didukung oleh akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Muh. Aris Marfai, yang mengusulkan Yogyakarta sebagai laboratorium spasial nasional (Living Laboratory Spasial Nasional). Di samping itu, perwakilan dari BMKG dan BPBD DIY juga sepakat bahwa transisi dari sekadar penyajian peta konvensional menuju pemanfaatan data intelijen yang dinamis dan terintegrasi menjadi kunci utama pertahanan wilayah di masa depan.