Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memproyeksikan kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Keuangan Internasional akan menjadi katalisator utama bagi pertumbuhan wisata bisnis atau yang dikenal dengan istilah business leisure (bleisure) di Pulau Dewata. Kebijakan ini diharapkan mampu menarik segmen wisatawan yang tidak hanya mencari liburan, tetapi juga keterlibatan dalam aktivitas ekonomi berskala global.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono, menekankan bahwa pengembangan ini merupakan langkah strategis dalam diversifikasi produk pariwisata. Dengan menyasar segmen bisnis, Bali berpeluang meningkatkan kualitas kunjungan yang tercermin dari nilai belanja wisatawan dan durasi menginap yang lebih panjang, sehingga memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi daerah dalam jangka menengah hingga panjang.
Lokasi pengembangan pusat keuangan internasional ini direncanakan berada di kawasan KEK Kura Kura, Desa Serangan, Denpasar. Saat ini, pemerintah pusat tengah melakukan percepatan dalam pematangan regulasi serta pembangunan infrastruktur penunjang guna memastikan operasional KEK tersebut berjalan optimal sesuai standar internasional.
Data Dinas Pariwisata Bali mencatat lonjakan jumlah wisatawan mancanegara pada 2025 yang mencapai 7,05 juta jiwa, naik signifikan dari 6,33 juta pada tahun sebelumnya. Kendati demikian, tantangan untuk meningkatkan rata-rata lama tinggal tetap menjadi perhatian utama pelaku industri, termasuk PHRI Bali, yang kini fokus mengedepankan pariwisata berkualitas yang berfokus pada nilai ekonomi, keberlanjutan, dan pelayanan prima.