Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menegaskan bahwa Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah bertransformasi menjadi katalisator utama pertumbuhan ekonomi sekaligus pilar perlindungan sosial masyarakat. Dalam acara Public Expose 2025 yang digelar di Jakarta, ia memaparkan bahwa program ini memberikan dampak nyata berupa peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar Rp129 triliun.

Efek domino dari sektor kesehatan ini turut dirasakan dalam penyerapan tenaga kerja, di mana tercatat terciptanya 1,5 juta lapangan kerja baru. Sektor jasa kesehatan, industri makanan dan minuman, serta layanan sosial menjadi bidang yang paling terdampak positif. Kehadiran JKN pun terbukti efektif sebagai jaring pengaman sosial, dengan data yang menunjukkan keberhasilan menyelamatkan hingga 8,1 juta penduduk dari risiko kemiskinan dalam kurun waktu tertentu.

Dari sisi tata kelola, BPJS Kesehatan berhasil mempertahankan integritas dengan meraih opini Wajar Tanpa Modifikasi (WTM) selama 12 tahun berturut-turut. Tingkat kepuasan peserta pun mengalami peningkatan signifikan menjadi 92,9 persen, yang diimbangi dengan perolehan skor integritas dari KPK sebesar 80,48, menegaskan komitmen lembaga dalam transparansi operasional.

Untuk memastikan keberlanjutan layanan, BPJS Kesehatan kini lebih memprioritaskan upaya promotif dan preventif melalui Program Rujuk Balik (PRB). Hingga saat ini, lebih dari 4,2 juta peserta, terutama penderita hipertensi dan penyakit jantung, telah memanfaatkan layanan tersebut setelah kondisi medisnya dinyatakan stabil.

Prihati menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen penuh dalam merespons kebutuhan masyarakat. Seluruh pengaduan pelanggan yang mencapai lebih dari 132 ribu laporan sepanjang tahun 2025 diklaim telah dituntaskan seratus persen. Hal ini mempertegas posisi JKN sebagai instrumen perlindungan finansial yang krusial bagi masyarakat agar tidak perlu lagi merasa khawatir saat menghadapi risiko kesehatan.