Pasar keuangan global dan domestik bersiap menghadapi pekan yang penuh gejolak pada periode 3 hingga 7 Agustus 2026. Pergerakan pasar akan didikte oleh tiga sentimen utama, yakni rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), kelanjutan kinerja keuangan emiten teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta dinamika geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas.
Fokus pasar global akan tertuju pada rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan pada Jumat mendatang. Data ini krusial karena menjadi kompas bagi arah kebijakan suku bunga The Fed. Selain itu, laporan laba dari raksasa teknologi seperti Palantir dan AMD akan menguji realisasi investasi sektor AI, sementara data indeks manufaktur (ISM PMI) global dianalisis untuk mengukur potensi perlambatan ekonomi dunia.
Dari regional Asia, tekanan bertambah setelah data manufaktur Caixin China menunjukkan kontraksi di bawah level 50, memicu harapan pasar akan adanya stimulus baru dari Beijing. Pada saat yang sama, investor global juga mencermati respons Bank of Japan terhadap kebijakan pengetatan moneter sebelumnya, serta menanti hasil rapat kebijakan moneter dari bank sentral Australia dan India.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut menjadi katalis volatilitas. Keputusan Presiden Donald Trump untuk menunda serangan militer guna membuka ruang dialog sempat meredakan ketegangan, namun potensi gangguan pelayaran di Selat Hormuz tetap mengancam stabilitas pasokan minyak mentah dunia. Kondisi ini berisiko memicu inflasi di negara-negara importir energi Asia, sekaligus mendorong emas sebagai aset lindung nilai utama.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan dengan menguat 0,59 persen ke kisaran 6.241 hingga 6.249. Penguatan ini ditopang oleh solidnya kinerja keuangan emiten semester I-2026, kembalinya aliran dana asing, serta agenda rebalancing indeks LQ45, IDX30, dan IDX80. Meski begitu, potensi penguatan IHSG diperkirakan terbatas akibat ketidakpastian pasar pasca mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia.
IHSG pekan ini diproyeksikan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan bullish pada rentang support 6.180–6.200 dan resistance 6.290–6.340, ditopang sektor bahan baku, teknologi, serta barang konsumsi. Sementara itu, nilai tukar rupiah yang menguat tipis di awal pekan masih rentan tertekan apabila imbal hasil (yield) US Treasury kembali melonjak merespons data NFP AS.