Aktivitas erupsi yang melanda Gunung Anak Krakatau sejak awal Juli 2026 tidak menyurutkan animo masyarakat untuk berlibur di kawasan pesisir Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Kendati status gunung api tersebut telah dinaikkan menjadi Siaga (Level III) sejak 2 Juli 2026, denyut nadi sektor pariwisata dan pelayaran di Selat Sunda dilaporkan tetap stabil dan beroperasi seperti sedia kala.

Haikal, seorang pelaku usaha jasa wisata di Lampung Selatan, mengungkapkan bahwa kunjungan wisatawan selama periode libur sekolah tahun ini tetap terjaga. Menurutnya, para pelancong lebih memilih berwisata di pantai-pantai kawasan Kalianda dan Bakauheni yang dinilai aman serta tidak berada dalam radius bahaya. Demi alasan keselamatan, ia dan pelaku wisata lainnya telah meniadakan paket kunjungan langsung ke kawasan Anak Krakatau sejak awal bulan ini.

Senada dengan Haikal, wisatawan asal Palembang, Aldi (40), mengaku tetap memilih Lampung Selatan sebagai destinasi keluarga karena aksesibilitasnya yang mudah melalui Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar. Ia memastikan telah melakukan observasi mandiri terkait informasi kebencanaan dan memilih destinasi yang jauh dari radius 3 kilometer dari puncak gunung, sesuai dengan rekomendasi otoritas terkait.

Pemerintah daerah melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Lampung Selatan terus melakukan pemantauan intensif berkoordinasi dengan instansi terkait. Rully Fikriansyah, Kepala Bidang di dinas tersebut, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kendala berarti bagi operasional kapal maupun kenyamanan wisatawan di sepanjang pesisir pantai Lampung.

Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan sejak Juni 2026. Meskipun erupsi beruntun dengan kolom abu setinggi 100 hingga 250 meter terus terekam di seismogram, masyarakat tetap diimbau untuk mematuhi zona larangan sejauh 3 kilometer dari pusat erupsi guna mengantisipasi ancaman lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu.