Integrasi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah ke berbagai sektor, termasuk dinamika praktik keagamaan dan pendidikan Islam. Fenomena ini memicu kebutuhan mendalam untuk memahami bagaimana kelompok Muslim, dengan latar belakang ideologi yang berbeda, menyikapi kehadiran teknologi tersebut dalam keseharian mereka.
Sebuah riset kolaboratif yang dilakukan pada pertengahan tahun 2026 melibatkan 367 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia dan Malaysia. Menggunakan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM), para peneliti membedah perbedaan persepsi antara kelompok Muslim tradisional dan Muslim modern terkait kemudahan, manfaat, serta intensitas penggunaan AI dalam studi keislaman.
Hasil analisis menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) menunjukkan bahwa secara umum, responden memberikan respons positif terhadap teknologi AI. Namun, analisis lebih mendalam mengungkapkan perbedaan fundamental dalam motivasi penggunaan. Kelompok mahasiswa Muslim tradisional cenderung menempatkan aspek kemanfaatan praktis sebagai pertimbangan utama sebelum memutuskan menggunakan AI. Di sisi lain, mahasiswa Muslim modern lebih didorong oleh sikap positif serta antusiasme mereka terhadap inovasi teknologi itu sendiri.
Temuan ini memberikan kontribusi strategis bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam di masa depan. Para pengembang kebijakan digital di lingkungan perguruan tinggi diimbau untuk menyesuaikan strategi literasi digital dengan mempertimbangkan orientasi keberagamaan pengguna. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kualitas pendidikan berbasis teknologi sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek kualitas pendidikan dan inovasi digital.