PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) kini tengah melakukan pergeseran paradigma bisnis jalan tol, dari sekadar penyedia infrastruktur fisik menuju konsep infraculture. Perubahan ini menitikberatkan pada aspek keselamatan dan peningkatan pengalaman pengguna di sepanjang jalur tol yang dikelola perusahaan.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A Purwantono, menyatakan bahwa transformasi ini merupakan komitmen perusahaan untuk melayani masyarakat sepenuh hati. Dengan melayani sekitar 3,5 juta kendaraan setiap harinya, Jasa Marga menempatkan kepuasan dan keselamatan pengguna sebagai prioritas utama dalam setiap kilometer perjalanan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, perseroan mengandalkan serangkaian inovasi teknologi, termasuk sistem pengawasan kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL), pusat kendali Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC), serta ekosistem digital melalui aplikasi Travoy. Selain itu, perusahaan juga melakukan rejuvenasi area peristirahatan (rest area) agar berfungsi sebagai destinasi wisata, bukan sekadar tempat pemberhentian singkat bagi pengemudi.
Akademisi Mohammed Ali Berawi menilai langkah Jasa Marga sudah berada di jalur yang tepat dalam membangun ekosistem mobilitas cerdas. Menurutnya, keberhasilan sistem transportasi masa kini bergantung pada sinergi tiga pilar utama, yakni hardware, software, dan brainware, yang harus terintegrasi untuk menjawab tuntutan zaman.
Senada dengan hal tersebut, praktisi bisnis Rhenald Kasali menyoroti pentingnya adaptasi layanan terhadap perilaku konsumen generasi baru yang sangat bergantung pada algoritma digital. Ia mengapresiasi upaya manajemen dalam mengoptimalkan aset digital yang ada untuk memberikan solusi cepat dan tepat bagi pengguna jalan yang membutuhkan bantuan di lapangan.