Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah mengubah peta konsumsi media secara drastis. Masyarakat kini cenderung beralih dari teks konvensional menuju konsumsi konten berbasis visual yang dinamis. Fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri media untuk segera merumuskan ulang model bisnis dan strategi distribusi agar tetap relevan di tengah persaingan platform global.

Praktisi media senior sekaligus Ketua Dewan Pembina Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wenseslaus Manggut, menyoroti bahwa ketergantungan publik terhadap platform seperti TikTok dan YouTube didorong oleh efisiensi otak dalam memproses informasi visual. Meski demikian, ia menegaskan bahwa jurnalisme berbasis teks masih memegang peran krusial dalam menyajikan pendalaman materi, analisis data yang kompleks, dan pemberian konteks yang utuh bagi pembaca.

Data menunjukkan perubahan perilaku audiens yang signifikan, di mana tren akses informasi melalui media sosial meningkat tajam pada tahun 2026. Menanggapi pergeseran ini, media lokal didorong untuk tidak hanya mengandalkan platform arus utama, tetapi juga mulai memanfaatkan kanal-kanal personal seperti WhatsApp Channel. Pendekatan berbasis komunitas lokal ini dinilai mampu menciptakan ikatan yang lebih intim dan efektif antara media dengan masyarakat di tingkat daerah.

Di sisi lain, CEO Suara.com, Suwarjono, dalam diskusi yang sama menekankan pentingnya kolaborasi sebagai kunci keberlanjutan industri. Mengingat lanskap digital yang terus berubah, sinergi antar elemen media diperlukan untuk mempertahankan kredibilitas sekaligus menjaga stabilitas ekonomi media di tengah gempuran tren media sosial yang semakin mendominasi ruang publik.